PESAN JURNAL KLIK SINI
....................................................................................................................................

Rabu, 18 Juli 2012

OVERURBANIZATION IN SEMARANG CITY


Oleh : Saratri Wilonoyudho
Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229


Abstract : The economic growth in Semarang has resulted in bad impact of degradation the environment, traffic jams, increasing informal sectors and unemployment, crimes, and various social-politic conflicts. From this phenomenon, it is suspected that Semarang is undergoing overurbanization, that is the imbalance between population and economic growth. From the result of research, it can be concluded that the main determinant of urbanization process in Semarang is the prolonged capitalization from colonial era. However, it not industrialization that develops, but informal sectors and service sectors. The impact is the city involution because as if the new employees can never participate in informal sectors. As a result, the Semarang City Government must mobilize non-producing resources to finance creating and organizing the needed service for high concentration of population under low standard of industrialization. In other words, Semarang and the hinterland are indeed undergoing “de-industrialization”. Industrial and agricultural sectors decreases their role, and on the other hand the service sector increases. In those areas, urbanization tends to occur with a spreading pattern characterized by high rate of population in urban areas like in regencies surrounding Semarang. The economic growth in those areas does not depend on the core city, Semarang, so that the level of advanced primate city has been passed through. The suggestions proposed are that the megapolitan issues has been reached, thus the things that need to consider in megaregional tendency. The regencies in the hinterland are proven “to balance’ the global capitalism, apart from wether the growth of enterpreunership innovation is accompanied by significant increase of welfare. This means that things need further attention is to manage the relationship between locality and production system and global economic in those ares to make people welfare and prevent people to migrate to other big cities.

Keywords: overurbanization, Semarang City, megapolitan


preview/download

STUDI PERILAKU PEJALAN KAKI PADA TROTOAR (PEDESTRIAN WAYS) DI SURAKARTA DITINJAU DARI KENYAMANAN IKLIM


Oleh : Moch Fathoni Setiawan
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: mfath90@gmail.com

Abstrak : Trotoar tentunya harus dapat mewadahi kebutuhan pejalan kaki dan berfungsi secara maksimal guna mendukung aktivitas atau kegiatan di suatu kota. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang perkembangan dan efektivitas segala kegiatan (ekonomi, pemerintahan dan jasa) di kota. Perilaku pejalan kaki dalam studi ini ditunjukkan dalam bentuk persepsi masyarakat dalam memanfaatkan trotoar dalam kehidupan sehari-hari, ditinjau dari kenyamanan Iklim. Obyek Studi dalam penelitian ini adalah Penggal Jalan Slamet Riyadi Surakarta, meliputi jalur trotoar di kawasan sekitar gladak, yaitu hotel Novotel, Mall, Perkantoran, Musium, dan pertokoan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei yaitu pengamatan secara langsung di lapangan. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel fungsional yaitu antara lain umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, dan tujuan menggunakan jalur trotoar. Variabel struktural yaitu pendapat masyarakat tentang kenyamanan pejalan kaki terhadap pemanfaatan trotoar di jalan protokol Kota Surakarta (studi kasus jalan slamet riyadi Surakarta) yang dalam aplikasinya dibatasi hanya ditinjau dari kenyamanan iklim. Dalam penelitian ini jumlah volume populasi pejalan kaki adalah 1036 orang, dan dapat diambil sampel sebagai parameter perkiraan sebesar 10% dari jumlah populasi yang diperoleh dari hasil perhitungan peneliti. Maka besar sampel dalam penelitian ini ditetapkan berjumlah 100 orang pejalan kaki. Secara keseluruhan pendapat pejalan kaki terhadap faktor iklim menunjukkan pendapat yang CUKUP BAIK.

Kata kunci: pejalan kaki, trotoar, persepsi masyarakat, kenyamanan iklim.

Abstract : Pedestrian way certainly should be able to accommodate the needs of pedestrians and function optimally in order to support the activity or activities in a city. It is intended to support the development and effectiveness of all activities (economic, governance and services) in the city. Pedestrian behavior in this study are shown in the form of public perception in the use of sidewalks in everyday life, viewed from the comfort of Climate. Object of study in this research is Slamet Riyadi Street Chop Surakarta, including lane pavement in the area around gladak, namely the Novotel hotel, Mall, Office, Museum, and shops. The method used in this study is a survey of direct observations in the field. In this study there are two functional variables which include age, educational level, occupation, residence, and the purpose of using the sidewalk path. Structural variables which public opinion about the comfort of pedestrians to use sidewalks on main streets Surakarta (case study Slamet Riyadi road Surakarta) which in its application is limited only in terms of climate comfort. In this study the volume of pedestrian population is 1036 people, and the sample can be taken as a parameter estimate of 10% of the total population obtained from the calculation of researchers. Then the sample size in this study amounted to 100 people assigned pedestrians. Overall opinion of pedestrians against climatic factors indicates that GOOD ENOUGH opinion.

Keywords: pedestrians, sidewalks, public perception, climate comfort.


preview/download

BRESING YANG BAIK UNTUK STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA


Oleh : Arie Taveriyanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Pada beberapa tipe chevron biasa, rangka bresing baja konsentrik (OCBF) menderita bahaya gempa bumi yang besar. Sebuah gedung di Hollywood Utara, yang dipilih untuk studi ini, karena pada bulan Januari 1994 di Northridge terjadi gempa bumi. Adanya bahaya gempa bumi ini yang mendasari pengembangan bentuk konfigurasi dari bresing, sehingga diperoleh bresing yang baik untuk struktur gedung yang tahan gempa. Perubahan konfigurasi bresing dari chevron menjadi konfigurasi X 2 lantai dapat menghindari ketidakstabilan dan sendi plastis pada balok lantai. Lebih lanjut perbaikan dapat dicapai dengan mendesain ulang bresing dan balok lantai menjadi sistem lemah dan balok kuat SCBFs. Peningkatan penuh ini pada CSBFs menghasilkan respon histeretik yang baik dengan aksi inelastik menghasilkan respon histeristk yang baik dengan aksi inelastik menghasilkan bresing yang daktail, menunjukkan distribusi yang daktail, menunjukkan ditribusi yang layak dari bahaya yang tinggi pada gedung.

Kata kunci: bresing, gedung, tahan gempa

Abstract : On some types of chevron regular, concentric steel frame bresing (OCBF) suffered a major earthquake hazard. A building in North Hollywood, which was chosen for this study, due in January 1994 Northridge earthquake. The danger of this earthquake that underlie the development of bresing shape configuration, in order to obtain good bresing for building earthquake-resistant structures. Bresing of chevron configuration changes to the configuration X 2 floors to avoid instability and plastic joints in the floor beams. Further improvement can be achieved by redesigning bresing and floor beams into a system of weak and strong beams SCBFs. The increase in CSBFs produce this full histeretik good response with inelastic action produces a good response to the action histeristk inelastic bresing produce a ductile, showing the distribution of the ductile, showing the proper distribution of the dangers that are high on the building.

Key words: bresing, buildings, earthquake resistant


preview/download

PENAMBAHAN LIMBAH ABU BATU BARA PADA BATAKO DITINJAU TERHADAP KUAT TEKAN DAN SERAPAN AIR


Oleh : Endah Kanti Pangestuti
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: endahkp@gmail.com

Abstrak : Peningkatan kuat tekan batako dapat dilakukan dengan penambahan limbah batu bara yang dikenal dengan abu terbang. Penelitian ini menggunakan komposisi campuran dengan perbandingan berat bahan susun batako yang terdiri dari semen portland pozolan, abu terbang dan pasir. Perbandingan tersebut adalah dengan komposisi abu terbang sebesar 0% (normal), 10%, 20%, 30%, 40%, 70% terhadap berat semen. Sampel berupa batako dengan ukuran 40 cm x 10 cm x 20 cm. Dari hasil percoban dengan berbagai perbandingan antara semen, pasir dan abu batubara yang ditambahkan Dilihat dari kuat tekan penambahan abu batubara sebagai pengganti semen sebanyak 10 % sampai 30 % mampu meningkatkan kuat tekan produk batako 4,5 % dan 19,8 % dibanding tanpa penambahan abu batubara, sedangkan pada penambahan abu terbang melebihi 30% kuat tekan batako semakin menurun. Penambahan abu terbang pada bahan ikat semen portland pozolan membuat batako menjadi lebih kedap air karena nilai serapan air batako menjadi semakin lebih rendah. Serapan air pada batako dengan abu terbang 0% adalah sebesar 12,55%, pada persentase 10% sebesar 12,45%, pada persentase 20% sebesar 11,92%, pada persentase 30% sebesar 11,48%, pada persentase 40% sebesar 11,07%, pada persentase 70% sebesar 8,81%.

Kata kunci : batako, abu terbang, kuat tekan, serapan air.

Abstract : The increase of compression strength of hollow block can be conducted with addition cooal waste with ash fly. This research use mixture composition with comparison of materials compile hollow block which consist of pozolan portland cement, fly ash and sand. The comparison with composition fly ash equal to 0 is% ( normal), 10%, 20%, 30%, 40%, 70% to cement weight. Sampel in the form of hollow block of the size 40 x cm 10 x cm 20 cm. Sampel in the form of batako of the size 40 x cm 10 x cm 20 cm. Experiment of various ratio of cement, sand and fly ash to make hollow block showed that subtitution of cement with fly ash 10 to 30 percent increased hollow block strength to 4,5 to 19,8 percent, while at addition fly ash to exceed 30% strength hollow block down progressively. Addition fly ash at pozolan portland cement make hollow bock become more waterproof because absorption value irrigate batako become lower progressively. Absorption at hollow block with fly ash 0% is equal to 12,55%, at 10% equal to 12,45%, at 20% equal to 11,92%, at 30% equal to 11,48%, at 40% equal to 11,07%, at 70% equal to 8,81%
Keyword : hollow block, strength, absorption


preview/download

PERBANDINGAN RESPONS SPEKTRUM TANAH HIPOTESA DENGAN RESPON SPEKTRUM RSNI 03-1726-201X KOTA SEMARANG


Oleh : Mahmud Kori Effendi
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229 e-mail: pak_kori@yahoo.com

Abstrak : Analisis respon nonlinear tanah pada kota Semarang saat ini sangat diperlukan. Perubahan peta gempa di peraturan bangunan Indonesia dari peta gempa dengan kala ulang 500 tahun menjadi 2500 tahun mengakibatkan terjadi perubahan pada bentuk respon spektrum. Data rekaman gempa bumi di Indonesia sangat sulit didapatkan. Pada tulisan ini dipakai rekaman dari gempa bumi Taft.Perhitungan respon dinamis nonlinier tanah ditunjukkan dengan menggunakan formulasi beda hingga. Viskoelastik, hubungan konstitutif elastoplastic diperkenalkan dan penggunaan model hiperbolik disebutkan di sini, nonlinier diperlakukan dengan memilih sifat regangan tanah yang kompatibel seperti kekakuan geser dan koefisien kekentalan. Sifat material tahap demi tahap diambil sebagai kemiringan seketika dan diasumsikan konstan dalam interval waktu tertentu. Untuk studi kasus ini parameter tanah menggunakan data dari Erdik (1982). Hasil dari analisis nonlinear tanah dibandingkan dengan respon spectrum dari RSNI 03-1726-201X untuk kota Semarang. Pada grafik terlihat bahwa respon spectrum analisis terletak dibawah dari grafik respon spectrum RSNI 03-1726-201X. Tetapi pada periode lebih besar dari 1 detik terletak diatas respon spectrum RSNI 03-1726-201X.

Kata kunci : Struktur tanah nonlinear, respon gempa, respon dinamika tanah

Abstract : Nonlinear response analysis of soil in Semarang city is needed currently. There is change in earthquake map in Indonesian Building code from Earthquake with 500 years return period to 2500 years return period. The earthquake records in Indonesia are rare. In this paper Taft earthquake record is used. The calculation of nonlinear response of soil properties was done by finite difference analysis. Viscoelastic, elastoplastic constitutive relations are introduced and the need for using hyperbolic models are mentioned here, nonlinearity is treated by selecting strain compatible soil properties such as shear stiffness and viscous coefficient. Stepwise material properties are taken as the instantaneous slope and assumed to be constant within the given time interval. Case study is hypothesized site in Erdik (1982). The nonlinear analysis is compared with RSNI 03-1726-201X response spectrum for Semarang city. From graphic shown that for period less than 1 sec the response is below of the RSNI 03-1726-201X but for period more than 1 sec the response is more than of RSNI 03-1726-201X.

Keywords : Nonlinear soil structure, seismic response

INTRUSI AIR LAUT DI KABUPATEN PEMALANG


Oleh : Karuniadi Satrijo Utomo
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229 email: utomo_unnes@yahoo.com

Abstrak : Satu di antara masalah penyediaan air baku di daerah pantai Kabupaten Pemalang adalah Intrusi air laut. Tujuan studi ini adalah untuk memprediksi dan memetakan intrusi air laut di wilayah tersebut, serta menyiapkan upaya pengendaliannya. Hasil studi ini menunjukkan bahwa intrusi air laut pada aquifer bebas di Kecamatan Comal dan Ulujami akan mencapai 5,8 km dari garis pantai dan pada aquifer tertekan akan mencapai 4,0 km dari garis pantai di tahun 2013. Sementara itu, intrusi air laut pada aquifer bebas maupun tertekan di Kecamatan Pemalang, Taman, dan Petarukan masih akan mencapai kurangdari 1 km dari garis pantai di tahun 2013. Untuk mereduksi masalah itu di masa datang, penting dilakukan reboisasi mangrove, pengendalian debit pemompaan dari sumur-sumur yang ada, dan membangun sumur-sumur dalam kolektif.

Kata kunci: Intrusi air laut, daerah pantai

Abstract : One of water suply problem at costal areas of Pemalang Regency is saltwater intrusion. Aims of this study are to predict that saltwater intrusion and its map, also to prepare suitable efforts to reduce that problem. Result of this study shows that saltwater intrusion at unconfined aquifers on coastal areas of Comal and Ulujami Districts will reach 5.8 km length from their shorelines and at their confined aquifers will reach 4.0 km length from their shorelines in 2013. Whilst, saltwater intrusion at both confined and unconfined aquifers on coastal areas of Pemalang, Taman, and Petarukan Districts will only reach less than1 km length from their shorelines in 2013. For reducing that problem in the future, it is important to cultivate mangrove, to control sink discharge from the existing well pumps, and to build more collective deep wells. .

Keywords: saltwater intrusion, costal areas

KAJIAN DAYA DUKUNG RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP KINERJA GEDUNG KAMPUS KONSERVASI


Oleh : Teguh Prihanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: rihants@gmail.com

Abstrak : Penelitian ini memiliki tujuan antara lain: (1) mengkaji penerapan green architecture terhadap desain ruang terbuka hijau kampus; (2) mengkaji daya dukung fisik ruang terbuka hijau terhadap keberadaan bangunan kampus dan lingkungan sekitarnya sebagai kawasan konservasi dan (3) memberikan rekomendasi desain ruang terbuka hijau kampus jika tidak selaras dengan konsep green architecture dan tidak memiliki daya dukung kuat terhadap bangunan kampus konservasi beserta lingkungannya.Penelitian ini mengambil lokasi di kawasan Kampus Fakultas Teknik Unnes. Secara khusus meninjau ruang-ruang terbuka yang mempunyai hubungan langsung dengan bangunan Gedung E1 dan E2, yaitu antara lain: parkir kendaraan, sitting group, taman dan hutan kampus. Penelitian ini bersifat “deskriptif-analitis”, yang bertujuan untuk mendapatkan nilai terukur tingkat kenyamanan fisik lingkungan ruang terbuka hijau dari hasil pengukuran suhu, kecepatan angin, kelembaban udara dan tingkat intensitas matahari. Ukuran kenyamanan akan berhubungan dengan daya dukung ruang terbuka terhadap fungsi gedung E1 dan E2 sebagai kantor dan ruang kuliah. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: (1) kenyamanan thermal dan (2) ruang terbuka hijau.Hasil penelitian menyebutkan bahwa secara umum, kondisi lingkungan di kawasan Gedung E1 dan E2 Fakultas Teknik Unnes sangat kondusif dan sesuai dengan aspek konservatif.

Kata Kunci: ruang terbuka, gedung E1-E2, vegetasi, udara

Abstract : The aims of this research are: (1) to review the application of green architecture concept to the design of the campus green open space, (2) to assess the physical carrying capacity of green open spaces of the existence of campus buildings and surrounding environment as a conservation area ;(3) to provide open space design recommendations green campus, if not in harmony with the concept of green architecture and do not have a strong bearing on the campus buildings and environment conservation.This research takes place in the region Unnes Campus Faculty of Engineering. In particular review the open spaces that have a direct relationship with the building Building E1 and E2, they are: vehicle parking, sitting groups, parks and forests campus. This was a "descriptive-analytic ', which aims to get the measured values of physical comfort level environment of green open space of the measurement of temperature, wind speed, air humidity and solar intensity level. Size of comfort will be dealing with the carrying of open space to the function of E1 and E2 building as offices and lecture halls. The variables used in this study include: (1) thermal comfort and (2) green open space.The results say that in general, environmental conditions in the area of Building Engineering Faculty of E1 and E2 Unnes very conducive and in accordance with conservative aspect.

Keywords: open space, building E1-E2, vegetation, air

KEBUTUHAN BAHAN BAKAR MINYAK DARI SIMPANG BANGKONG MENUJU JEMBATAN BANJIR KANAL TIMUR PADA WAKTU PUNCAK PAGI


Oleh : Eko Nugroho Julianto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102 E-mail : en_julianto@staff.unnes.ac.id

Abstrak : Jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak pada saat‑saat tertentu khususnya pada jam puncak sering mengakibatkan kemacetan di beberapa ruas jalan di kota Semarang, kemacetan ini menyebabkan biaya operasi kendaraan (BOK) dan waktu perjalanan bertambah dimana nilai untuk waktu perjalanan yang berlaku bagi masing‑masing orang atau pribadi berbeda‑beda. Biaya operasional penggunaan jalan terdiri atas biaya operasi kendaraan (vehicle operating cost) dan biaya waktu (Time value). Kedua faktor biaya tersebut sangat terkait dengan kecepatan kendaraan. Kebutuhan bahan bakar minyak untuk menempuh rute antara jalan MT. Haryono sampai jembatan banjir kanal timur pada kondisi awal memerlukan bahan bakar minyak sebanyak 0,103 liter/smp dengan tundaan total sebesar 65,92 detik/smp untuk menempuh jarak sejauh 802 meter dan pada kondisi terbangun memerlukan bahan bakar minyak sebanyak 0,180 liter/smp dengan tundaan total sebesar 49,76 detik/smp untuk menempuh jarak sejauh 2.137 meter. Kebutuhan bahan bakar minyak untuk menempuh rute antara jalan Ahmad Yani sampai jembatan banjir kanal timur pada kondisi awal memerlukan bahan bakar minyak sebanyak 0,110 liter/smp dengan tundaan total sebesar 65,83 detik/smp dengan memempuh jarak sejauh 809 meter dan pada kondisi terbangun memerlukan bahan bakar minyak sebanyak 0,156 liter/smp untuk menempuh jarak sejauh 2.101 meter dan tidak mengalami tundaan.

Kata kunci: Kebutuhan BBM, kondisi awal, kondisi terbangun

Abstract : The number of private vehicles more at certain times, especially at peak hours often results in congestion on some streets in the city of Semarang, congestion causes vehicle operating costs (BOK) and increased travel time for which the value of travel time for each applicable different person or different person. Operational costs consist of the use of road vehicle operating costs (vehicle operating cost) and cost of time (Time value). Both factors were highly correlated with the cost of vehicle speed. Needs fuel to travel the route between the road MT. Haryono to bridge east flood canal on the initial conditions require fuel oil as much as 0.103 liters / smp with a total delay of 65.92 sec / smp for a distance as far as 802 meters and the waking condition requiring fuel oil as much as 0.180 liters / smp with a total delay of 49.76 sec / smp for a distance as far as 2137 meters. Needs fuel to travel the route between Ahmad Yani street to the bridge east flood canal on the initial conditions require fuel oil as much as 0.110 liters / smp with a total delay of 65.83 sec / smp with memempuh distance of 809 meters and the waking condition require materials fuel oil as much as 0.156 liters / smp for a distance of 2101 meters and as far as having no delay.

Keywords: fuel consumption, the initial conditions, the condition of waking

GERUSAN LOKAL DI KAKI STRUKTUR IMPERMEABLE BERDINDING MIRING


Oleh : Dalrino
Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang, email: dalrino74@yahoo.co.id

Karuniadi Satrijo Utomo
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Unnes Gd E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229, email: utomo.unnes@gmail.com

Abstrak : Gerusan kaki merupakan fenomena yang sering dialami oleh struktur-struktur bangunan pantai dan disadari sebagai faktor penyebab kegagalan struktur. Saat struktur ditempatkan di lingkungan pantai, keberadaan struktur tersebut akan segera mempengaruhi pola aliran disekitarnya, salah satunya adalah posisi gelombang pecah. Saat terjadi gelombang pecah, disipasi energi akibat proses pecahnya gelombang akan terkompensasi dalam bentuk vortex dan peningkatan intensitas aliran yang memiliki kemampuan untuk memindahkan material dasar dari posisi awalnya di kaki struktur. Penelitian ini difokuskan pada kondisi gelombang pecah yang menghasilkan gerusan local di kaki pada struktur impermeable berdinding miring. Variabel pengujian terdiri atas tinggi gelombang (H), periode gelombang (T), kedalaman air di kaki struktur (ds), kemiringan pantai (tan b), dan sudut kemiringan struktur (a). Pemodelan fisik dilakukan pada saluran gelombang dengan panjang 40 m, lebar 0,6 m dan tinggi 1,1 m di Balai Hidraulika dan Geoteknik Keairan (BHGK) PUSAIR, Bandung. Hasil penelitian memperlihatkan terjadinya peningkatan gerusan kaki sebagai akibat dari karakter gelombang pecah dan interaksinya terhadap struktur. Peningkatan kedalaman gerusan sebagai hubungan dari kedalaman air di kaki struktur, tinggi gelombang pecah, parameter surf similarity, gangguan terhadap dasar di kaki struktur akibat proses pecah gelombang, dan kecepatan aliran downrush.

Kata kunci: gerusan lokal, kaki struktur, gelombang pecah, impermeable, dinding miring

Abstact : Toe scour was one of phenomenon that frequently experienced by coastal structures and realized as the causative factor to structure failure. When a coastal structure was placed at coastal environment, existence of that structure would rapidly affect to the flow pattern around its area, one of them was breaking wave position. When breaking wave happened, energy dissipation caused by breaking process would be compensated in the form of vortex and improvement of flow intensity that have ability to move bed material from its original rest position around the toe.This research was focused on the breaking wave condition that produce local scouring at toe of impermeable sloping wall structure. Testing variable consists of wave height (H ), wave period (T) , water depth at toe (ds), beach slope (tan b), and angle of structure (a). Physical Modeling was conducted at wave flume with 40 m length, 0.6 m width and 1.1 m height in Balai Hidraulika and Geoteknik Keairan (BHGK) PUSAIR, Bandung. Riset result shows that improvement of toe scour was affected by breaking wave characteristics and their interaction with the structure. Improvement of depth of scour was in relation with water depth at toe, height of wave breaking, surf similarity parameter, bed agitation caused by breaking process, and downrush flow velocity.

Keywords: local scouring, toe structure, breaking wave, impermeable, sloping wall

EKSPLORASI MODEL TINGKAT KECELAKAAN LALU-LINTAS JALAN TOL DENGAN TEKNIK GLM (GENERALIZED LINEAR MODELING)


Oleh : Bambang Haryadi
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi model matematis yang dapat digunakan untuk meramalkan jumlah kecelakaan, pada suatu ruas jalan tol antar kota. Model prediksi dikembangkan dengan menghubungkan paparan lalulintas, yang dinyatakan dengan volume lalulintas dan panjang ruas jalan, dengan keselamatan, yang dinyatakan dalam jumlah kecelakaan per satuan waktu. Data jalan, kecelakaan, dan lalulintas selama dua tahun, diambil dari jalan tol antar kota Jagorawi, Jakarta-Cikampek, Padaleunyi dan Palikanci. Model tingkat kecelakaan dikembangkan dari data tersebut dengan teknik generalized linear modelling (GLM), dan dikalibrasi dengan menggunakan teknik-teknik statistik. Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah: (1) Model regresi linier dengan distribusi normal tidak memadai untuk memprediksi kecelakaan; tingkat kecelakaan tidak terbukti mengikuti distribusi normal; (2) Penggunaan regresi Poisson lebih mencerminkan karakteristik kejadian kecelakaan: diskrit, acak, langka; dan (3) Distribusi Binomial Negatif paling baik merepresentasikan kejadian kecelakaan dengan adanya gejala overdispersi pada data.

Kata kunci: tingkat kecelakaan, generalized linear modelling, regresi poisson, regresi binomial negatif.

Abstract : The objectives of the presents study was to explore mathematical models that could be used to estimate the number of accidents on inter-urban toll roads. Preditive models were developed by relating traffic exposure (average daily traffic and road section length) with the number of accidents per unit of time.Accident, roadway section and traffic volume data were obtained from Jagorawi, Jakarta-Cikampek, padaleunyi, and palikanci toll road. Accident rate models were developed from those data using generalized linear modelling (GLM) techniques. The conclusions from the study were: (1) linier regression model was not appropriate to be used to predict accidents number, because accident occurence did not follow normal distribution, (2) Poisson regression possessed accident occurence characteristics: descrete, rare and random, and (3) Negative Binomial distribution was more appropriate to represent accident occurence phenomenon with overdispersion.

Keywords: accident rate, generalized linear modelling, Poisson regression, nagative binomial regression.

KORELASI ANTARA CBR, PI DAN KUAT GESER TANAH LEMPUNG


Oleh : Mego Purnomo
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Dalam suatu perencanaan praktis kadang tidak perlu melakukan percobaan tanah secara keseluruhan. Oleh karena itu membutuhkan suatu pendekatan dari sifat-sifat tanah tersebut. Untuk memperoleh suatu pendekatan tersebutperlu diadakannya percobaan yang berulang-ulang di laboratorium, sehingga dapat digambarkan dalam suatu bentuk grafis hubungan antara sifat-sifaat tanah tersebut. Dari garfik tersebut jika salah satu faktor /sifat diketahui maka dapat ditentukan sifat yang lain. Penelitian ini menggunakan tanah lempung dari lokasi Pucang Gading (Semarang), Jalan Pedurungan-Genuk (Semarang), Karangawen (Demak), Gubuk (Purwodadi), Godong (Purwodadi). Dan penelitian dilakukan di laboratorium mekanika tanah. Dari hasil penelitian diperoleh hubungan antara CBR dan PI yaitu PI = 137,86 – 6,792CBR dan PI =90,796 – 4,574CBR, CBR dengan sudut dengan sudut geser tanah dalam yaitu : Ф = 18,379 + 1,155CBR dan Ф=10,496 + 1,71CBR, hubungan CBR dan kohesi yaitu : C = 0,165 CBR – 0,279 dan C = 0,174CBR – 0,5996, dan Hubungan PI dengan sudut gesr tanah dalam Ф = 49,916 – 0,4PI

Kata kunci: Plastik Indek, California Bearing Ratio, Kuat Geser, Tanah Lempung

Abstract : In a practical planning sometimes does not need to do a soil test as a whole. Therefore requires an approach from the soil properties. To obtain an approach tersebutperlu holding of repeated experiments in the laboratory, so it can be described in a graphical form of the relationship between nature-sifaat land. From garfik if one of the factors / characteristics are known then the other properties can be determined. This study used clay from the site Pucang Ivoire (Semarang), Jalan Pedurungan-Genuk (Semarang), Karangawen (Demak), Hut (Purwodadi), Godong (Purwodadi). And conducted research in soil mechanics laboratory. From the research results obtained by the relationship between CBR and PI is PI = 137.86-6.792 CBR and PI = 90.796 to 4.574 CBR, CBR at an angle with the shear angle in the ground: Ф = 18.379 + 1.155 CBR and 1.71 Ф = 10.496 + CBR , CBR connection and cohesion, namely: CBR C = 0.165 - 0.279 and C = 0.174 CBR - 0.5996, and PI relationship with the land gesr angle Ф = 49.916-0.4 PI

Keywords: Plastic Index, California Bearing Ratio, Strength Scroll, Clay Soil

EVALUASI SIMPANG UTAMA KORIDOR SELATAN KOTA SEMARANG STUDI KASUS SIMPANG BANYUMANIK


Oleh : Untoro Nugroho
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Posisi kota Semarang ditinjau dalam skala nasional maupun regional sangat strategis akan menimbulkan dampak pertumbuhan lalu lintas yang bersifat lokal maupun menerus yang cukup besar. Pertumbuhan lalu lintas yang cukup besar menghasilkan arus lalu lintas yang harus dikaji terus menerus sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. Arus lalu lintas yang cukup besar tanpa disertai pengaturan pola lalu lintas yang sesuai akan menyebabkan tundaan yang cukup lama dan antrian yang cukup panjang. Pola arus lalu lintas suatu ruas jalan dapat kita lihat dari pola pengaturan simpang yang berada pada ruas tersebut. Parameter yang diteliti meliputi jumlah kendaraan yang keluar dari masing-masing lengan, kondisi saat ini dan waktu sinyalnya. Analisis ini meliputi : arus jenuh dasar, arus lalu lintas, waktu siklus, waktu hijau, kapasitas, derajat kejenuhan dan perilaku lalu lintas. Dari hasil penelitian pada simpang bersinyal di persimpangan banyumanik, diperoleh arus jenuh dasar pada pendekat utara sebesar 5310 smp/jam, timur 3060 smp/jam, selatan 4740 smp/jam. Nilai arus jenuh pada pendekat utara sebesar 4117 smp/jam, timur 2100 smp/jam, selatan 4064 smp/jam. Perbandingan arus simpang sebesar 0,857. waktu hijau sebesar 161 detik. Kapasitas pada pendekat utara sebesar 2474 smp/jam, timur 681 smp/jam, selatan 2442 smp/jam. Derajat Kejenuhan pada pendekat utara sebesar 0,7284 smp/jam, timur 0,9261 smp/jam, selatan 0,9261 smp/jam. Jumlah antrian pada pendekat utara sebesar 58 smp, timur 32 smp, selatan 96,3 smp. Panjang antrian pada pendekat utara sebesar 180 meter, timur 178 meter, selatan 294 meter. Jumlah kendaraan terhenti seluruh simpang 0,80 stop/smp.Tundaan persimpangan rata-rata sebesar 40,76 det/smp. Besarnya kapasitas dan derajat kejenuhan hampir melewati batas yang disarankan, sehingga perlu perubahan lebar pendekat.

Kata kunci : evaluasi, optimalisasi, simpang, Banyumanik

Abstract : The position of Semarang reviewed in national and regional scale is very strategic, the impacts of traffic growth are sustained locally and are quite large. That growth traffic flows should be assessed continuously so as to avoid negative impacts. The pattern of traffic flows in a road section can be seen from the intersection arrangement pattern that is on the segment. Parameters studied include: the number of vehicles out of each arm, current conditions and time of the signal. This analysis includes: the basic saturation flow, traffic flow, cycle time, green time, capacity, degree of saturation and traffic behavior. From the results of research on the signalized intersection at the intersection Banyumanik, obtained by the basic saturation flow on the northern approach of 5310 pcu/h, east of 3060 pcu/h, south of 4740 pcu/h. Saturation flow rate on the northern approach of 4117 pcu/h, east of 2100 pcu/h, south of 4064 pcu/h. Comparison of the current intersection of 0.857. green time of 161 seconds. Capacity on the northern approach of 2474 pcu/h, east of 681 pcu/h, south of 2442 pcu/h. Degree of Saturation on the northern approach of 0.7284 pcu/h, east .9261 pcu/h, south of 0.9261 pcu/h. The number of queues on the approach north of 58 pcu, pcu 32 east, south 96.3 pcu. Long queues at the northern approach of 180 meters, 178 meters east, south 294 yards. The number of stopped vehicles throughout intersections 0.80 stop/pcu.Tundaan crossing by an average of 40.76 sec/pcu. The amount of capacity and degree of saturation is almost past the recommended limit, so that wide approach needs to change.

Keywords: evaluation, optimization, intersection, Banyumanik

RESPON MASYARAKAT TERHADAP METODE PNPM P2KP : PENGALAMAN MASYARAKAT SADANG SERANG KOTA BANDUNG


Oleh : Lulut Indrianingrum
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : PNPM P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan) yang dilaksanakan di Indonesia telah banyak mengubah kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam mengelola lingkungannya. Metode yang diterapkan dalam P2KP dianggap baru oleh masyarakat yang meliputi banyak lokasi pelaksanaan sebagai program nasional, waktu sosialisasi yang terbatas dan menuntut keluaran yang nyata pada periode yang singkat (pada program partisipasi). Hal-hal tersebut merupakan fakta yang melatarbelakangi pertanyaan kritis bahwa bagaimana respon masyarakat dalam mengelola program PNPM P2KP ditengah cara-cara konvensional yang biasa dilakukan masyarakat dalam mengelola lingkungannya. Artikel ini bertujuan untuk mendiskripsikan respon masyarakat pada metode perencanaan partisipatif (sebagai inti dari PNPM P2KP) ketika program ini dijalankan. Lokasi studi terletak di Kelurahan Sadang Serang Kota Bandung. Kelurahan ini telah melaksanakan program P2KP sejak 2004. Selama periode program, masyarakat menemui kesulitan dalam menjalankan metode program yang diterapkan. Masyarakat belum terbiasa dengan metode P2KP namun waktu yang diberikan pada masyarakat belum cukup untuk memahami tujuan program. Dengan kata lain, program yang seharusnya dilaksanakan dengan dasar partisipatif, dilaksanakan dengan dasar proyek. Waktu merupakan kunci dari permasalahan ini karena metoe partisipatif akan memberikan waktu yang tidak terbatas bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan program. Respon-respon dari masyarakat dianalisa dari wawancara dengan BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) sebagai pegelola P2KP dan anggota masyarakat di Sadang Serang.

Kata kunci : respon masyarakat, metode PNPM P2KP

Abstract : PNPM P2KP (national program of community empowerment – urban poverty alleviation program) has been changing the community’s habit in managing the neighbourhood. The method is new, covering many locations of implementation-as national program, limited time of socialization and demanding a real output in short period. These backgrounds lead to a critical question of how does the community response to manage PNPM P2KP within the traditional way of managing the neighbourhood?. This paper aims to describe the community’s response to participatory planning (as the spirit of PNPM P2KP) when they are implementing the program’s method. The location of study is in Sadang Serang Sub District in Bandung Municipality. Sadang Serang has been participating in this program since 2004. During the project period, the community found a complicated way of implementing the program’s method. They have not been acquainted with the participatory method but the program did not give them enough time to understand the program’s objective. In the other words, The program that should be participatory-based was implemented in project-based. Time is the keyword of this matter because participatory method will give the community unlimited time to interact with the program. Community’s responses were collected from interviews with the community’s board (BKM) as the local comitee of PNPM P2KP and community member in Sadang Serang.

Keywords: Community’s response, PNPM P2KP Method

PENGARUH KECEPATAN ALIRAN TERHADAP GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN DENGAN PERLINDUNGAN GROUNDSILL


Oleh : S u c i p t o
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Gerusan lokal yang terjadi pada pilar jembatan yang berada pada dasar sungai yang yang bersifat granuler (pasir) dapat menyebabkan terjadinya degradasi konstruksi yang berakibat pada ketidakstabilan konstruksi jembatan itu sendiri. Bersamaan dengan pengaruh liquifaction akibat getaran dari kendaraan yang melintasi konstruksi jembatan, gerusan lokal akan dapat menyebabkan kerusakan dan keruntuhan jembatan. Proses terjadinya gerusan ditandai dengan berpindahnya sedimen yang menutupi pilar jembatan serta erosi dasar sungai yang terjadi akan mengikuti pola aliran. Pengaruh kecepatan aliran akan lebih dominan sehingga menjadi penyebab terjadi keluar dan masuknya partikel dasar ke dalam lubang gerusan, namun kedalaman tetap atau konstan. Dalam keadaan setimbang kedalaman maksimum akan lebih besar dari rerata kedalaman gerusan. Penelitian pengaruh kecepatan aliran terhadap gerusan lokal pada pilar jembatan dengan perlindungan groundsill ini dilakukan pada clear-water-scour. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kedalaman gerusan maksimum pada pilar silinder untuk model running (M1) terjadi pada kecepatan 0,267 m/s yaitu sebesar 42 mm sedangkan kedalaman gerusan minimum terjadi pada kecepatan 0,157 m/s yaitu sebesar 3 mm. Pada kecepatan aliran yang sama, penempatan groundsill pada hilir pilar menyebabkan kedalaman aliran di sekitar pilar silinder lebih tinggi dari model (M1) sehingga kedalaman gerusan di sekitar pilar silinder lebih kecil dari model (M1) dengan angka reduksi rata-rata dari keseluruhan running pada berbagai variasi kecepatan sebesar 61,49 %.

Kata kunci: kecepatan aliran, gerusan lokal, pilar jembatan, groundsill.

Abstract: Local scouring which occurred on a bridge pillar at the bottom of rivers that are granular (sand) can cause degradation of construction that result in instability of the bridge construction itself. Along with the influence liquifaction due to vibration from construction vehicles crossing the bridge, local scour will cause damage and the collapse of the bridge. The process of scouring characterized by the migration of sediment that covers the basic pillars of the bridge and river erosion that occurred would follow the pattern of flow. Effect of flow velocity will be more dominant so that the cause of exit and entry occurs elementary particles into the scour hole, but the depth is fixed or constant. In an equilibrium state the maximum depth will be greater than the mean depth of scour. Research the influence of flow velocity on local scour at bridge pier with groundsill protection is done in clear-water-Scour. The result showed that the maximum scour depth at cylindrical pillar for running the model (M1) occurred at a speed of 0.267 m / s is equal to 42 mm while the minimum scour depth occurs at a speed of 0.157 m / s is equal to 3 mm. At the same flow rate, placement on the downstream groundsill pillar causes the depth of the flow around a cylinder pillar is higher than the model (M1) so that the depth of scour around cylindrical pillar is smaller than the model (M1) with an average reduction rate of the overall running on various velocity variation of 61.49%.

Keywords: the flow velocity, local mashed, pillar bridge, groundsill

MODEL KUAT TEKAN, POROSITAS DAN KETAHANAN AUS PROPORSI LIMBAH PELEBURAN BESI DAN SEMEN UNTUK BAHAN DASAR PAVING BLOCK


Oleh : Moch. Husni Dermawan
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Pemanfaatan limbah peleburan besi belum dimanfaatkan secara maksimal untuk bahan bangunan, khususnya sebagai bahan susun dalam pembuatan paving block. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik terak dan untuk mengetahui kuat tekan, porositas, ketahanan aus paving block dengan menggunakan terak sebagai bahan substitusi pasir. Metode yang digunakan dengan metode eksperimen. Pembuatan benda uji dibuat 2 jenis yaitu benda uji tanpa terak dan benda uji dengan kandungan terak. Benda uji penelitian dibuat 4 perlakuan kandungan terak yaitu 20%, 40%, 60%, dan 80%. Tiap kelompok dibuat benda uji, 5 untuk kuat tekan, 5 porositas dan 5 ketahanan aus. Pengujian dilakukan di BPIK Semarang. Hasil pengujian dari paving block dengan kandungan terak 0% menunjukkan kuat tekan 204,24 kg/cm², porositas 4,95%, ketahanan auas 0,145 mm/menit. Kandungan terak 20%, kuat tekan 192,13 kg/cm², porositas 6,150%, ketahanan aus 0,186 mm/menit. Kandungan terak 40%, kuat tekan 179,33 kg/cm², porositas 7,657%, ketahana aus 0,259 rnm/menit. Kandungan terak 60%, kuat tekan 164,94 kg/cm², porositas 8,509%, ketahanan aus 0,3482. Kandungan 80% terak kuat tekan 149,06 kg/cm², porositas 9,911%, ketahanan aus 0,448 mm/menit. Kuat tekan paving block dengan kandungan terak 20% dan 40% tergolong dalam mutu III, porositas paving block kandungan terak 20% tergolong dalam mutu III, dan ketahanan aus paving block kandungan terak 20% tergolong dalam mutu III.

Kata kunci : kuat tekan, keausan, porositas, paving block

Abstract : Utilization of iron smelting waste has not been fully utilized for building materials, especially as an ingredient in the manufacture of paving block stacking. The purpose of this study was to characterize the slag and to determine compressive strength, porosity, wear resistance of paving blocks by using slag as a sand substitute. The method used by experimental methods. Preparation of specimens made 2 types of test object without slag and specimens with slag content. The specimens made 4 treatment research slag content of 20%, 40%, 60%, and 80%. Each group was made of samples, 5 for compressive strength, 5 porosity and 5 wear resistance. Testing is done at BPIK Semarang. Test results from block paving with slag content of 0% shows the compressive strength of 204.24 kg / cm ², 4.95% porosity, resilience auas 0.145 mm / min. Slag content of 20%, compressive strength of 192.13 kg / cm ², 6.150% porosity, wear resistance 0.186 mm / min. Slag content of 40%, compressive strength of 179.33 kg / cm ², 7.657% porosity, wear resistance 0.259 rnm / min. Slag content of 60%, compressive strength of 164.94 kg / cm ², 8.509% porosity, wear resistance 0.3482. 80% slag content of compressive strength of 149.06 kg / cm ², 9.911% porosity, wear resistance 0.448 mm / min. Compressive strength of paving blocks with slag content of 20% and 40% belong to the quality of III, the porosity of the paving block 20% slag content is categorized in the quality of III, and wear resistance of paving blocks slag content of 20% belong to the quality of III.

Keywords : compressive strength, wear resistance, porosity, paving block

UPAYA PENGELOLAAN LAHAN BANGUNAN PADA BANTARAN SUNGAI BERBASIS LINGKUNGAN DI KABUPATEN SLEMAN DIY


Oleh : Hestin Mulyandari
Program Studi Arsitektur, Fakultas Sains & Teknologi, Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) Jl. Ringroad Utara, Jombor, Sleman, Yogyakarta 55285 email: hestin_jl@yahoo.com

Abstrak : Kabupaten Sleman merupakan lahan bagus untuk investasi lahan, mengakibatkan harga tanah di daerah tersebut semakin tinggi, sehingga masyarakat semakin mengincar daerah tersebut, akhirnya mempengaruhi peningkatan pemanfaatan lahan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman dengan alasan lahannya murah. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, banjir yang terjadi di daerah-daerah rawan banjir pada dasarnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu: kegiatan manusia, peristiwa alam dan degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengarahkan pengelolaan lahan bangunan di daerah bantaran sungai untuk menjadi lebih baik. Penelitian dilakukan dengan eksplorasi untuk menemukan profil pemanfaatan ruang bantaran sungai dan mengevaluasi kebijakan serta mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang oleh bangunan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman. Sungai yang menjadi studi kasus ini adalah: sungai Boyong-Code, sungai Winongo, dan Sungai Gadjah Wong. Pada umumnya konsep drainase di ketiga sungai tersebut masih mengacu pada konsep drainase konvensional. Konsep tersebut mengartikan drainasi sebagai upaya mengatuskan air secepat-cepatnya ke sungai dan selanjutnya ke hilir. Bahkan drainase konvensional sering diartikan sebagai upaya pengeringan kawasan. Konsep tersebut harus diubah dengan konsep menuju drainasi ramah lingkungan, yaitu upaya mengalirkan air kelebihan di suatu kawasan dengan jalan meresapkan air atau mengalirkan secara alamiah dan bertahap ke sungai. Oleh karena itu perlu penerapan mengatasi banjir dengan konsep: “one river one plan and one integrated management”.

Kata kunci : identifikasi, pemanfaatan lahan, kontrol, arahan

Abstract : Sleman district have many good lands for investment, cause price of land would be raised, so that people look for the area increasingly. Eventually affect the increase land using in flood plains area in Sleman district as a reason of cheap land. From various studies that have been done, which flooding occurs in areas prone basically due to three factors, namely: human activities, natural events and environmental degradation. This study aims to direct the management of flood plains area better. This research was conducted by exploration to find using river bank and evaluate policy and control mechanisms in the areas of space utilization riverbanks in Sleman district. the case study of river are: Boyong-Code river, Winongo river, and Gadjah Wong river. Generally, the drainage concept of the three rivers are still referring to the concept of conventional drainage. The concept was interpreted as a run off water as soon as possible to the river and further downstream. Even the conventional drainage is often interpreted as an effort to drying area. The concept must be changed with the concept of environmentally friendly toward the drainage, for example run off water into a river naturally. It is therefore necessary to overcome the floods with the application of the concept: "one river one plan and one integrated management".

Keywords : identify, land use, control, guideline

KAJIAN KUALITAS GENTENG KERAMIK DENGAN PENAMBAHAN PASIR SUNGAI (Studi Kasus Pasir Sungai Blorong, Boja, Kabupaten Kendal)


Oleh : Tugino
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Proses produksi genteng keramik yang menggunakan bahan dasar tanah liat dengan keplastisan tinggi mengakibatkan kualitas genteng berkurang, banyak genteng yang retak-retak dan penyimpangan bentuknya tinggi, sehingga nilai kualitas genteng keramik belum memenuhi atau masih di bawah rata-rata standar SNI.03-2905-1998. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan pasir sungai Blorong terhadap kualitas genteng keramik. Sampel penelitian adalah genteng keramik dengan campuran pasir sungai Blorong sebesar 0%, 3%, dan 5%. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi. Metode observasi ini untuk mengamati proses pengujian di lapangan dan di laboratorium BBTPPI Kota Semarang. Proses pembuatan sampel dilakukan di tiga pengrajin genteng, masing-masing pengrajin membuat genteng dengan campuran pasir sungai Blorong sebagai kelompok eksprimen dan genteng keramik tanpa campuran pasir Blorong sebagai kelompok kontrol. Hasil penelitian didapat bahwa kualitas genteng keramik ditinjau dari pandangan luar antara genteng keramik tanpa pasir sungai Blorong dengan genteng keramik dengan menggunakan pasir sungai Blorong menunjukkan bahwa pandangan luar sama, permukaan genteng tidak mulus, retak-retak rambut, dan susunan di atas reng keduanya sama rapih dan baik. Penelitian ini juga menemukan bahwa ada pengaruh penggunaan pasir sungai Blorong terhadap ketetapan ukuran panjang dan lebar, ukuran tinggi kaitan, ketetapan bentuk, kualitas penyerapan air, dan pengaruh terhadap kekuatan dalam menahan beban lentur.

Kata Kunci : genteng keramik, keplastisan, beban lentur.

Abstrak : Ceramic roof tiles production process that uses basic ingredients of clay with high plasticity resulting in reduced quality of roof tiles, many of the cracked tiles and the shape deviation is high, so the value of quality ceramic tiles do not satisfy or are below the average standardSNI.03-2905-1998. The purpose of this study is to investigate the effect of river sand Blorong to quality ceramic roof tiles. The samples were ceramic roof tiles with a mixture of river sand Blorong 0%, 3% and 5%. Data collection method used is the method of observation. This observation method to observe the testing process in the field and in laboratory BBTPPI Semarang. The process of making sample was taken three tile craftmen, craftmen create each roof tiles with a mixture of Blorong river sand as experimental group and ceramic tile without Blorong sand mixture as the control group. The results found that the quality of ceramic roof tile observed from the outside view of the river sand ceramic tile without Blorong with ceramic tile using Blorong river sand shows that the view out the same, the surface of the roof tiles are not smooth, hair cracks, and the composition of the top batten both neat and good. The study also found that there is the influence of Blorong river sand of assessment length and width, height relationship, assessment forms, the quality of water absorption, and impact on the resistance to bending loads.

Keywords : ceramic roof tiles, plasticity, bending loads.

KAJIAN KENYAMANAN THERMAL PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL ARSITEKTUR KOLONIAL MODERN


(Studi Kasus : Rumah Tinggal Karya Arsitek Liem Bwan Tjie Jl. Dr. Wahidin No. 38 Semarang)

Oleh : RM. Bambang Setyohadi KP

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Bangunan rumah tinggal yang terletak di jalan Dr. Wahidin No. 38 Semarang merupakan artefak arsitektur yang masih tersisa. Bangunan ini didirikan pada tahun 1938 oleh arsitek Liem Bwan Tjie yang bergaya arsitektur kolonial modern. Dalam perancangan arsitektur, iklim merupakan bahan pertimbangan utama, iklim di suatu daerah dan keinginan memenuhi tuntutan kenyamanan harus menghasilkan pemecahan perancangan fisik desainnya. Pemecahan – pemecahan ”climatic design” yang muncul sebagai jawaban terhadap kajian responsif iklim. Faktor iklim berpengaruh besar terhadap aspek kenyamanan thermal. Penelitian ini dibatasi hanya pada pembuktian kuantitatif kinerja kenyamanan thermal pada bangunan rumah tinggal tersebut. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan : nilai To (suhu udara diluar ruangan) lebih besar 5,97 C° dari batas ET (Efektif Temperatur) sehingga masuk kategori tidak nyaman, sedangkan nilai Ti (suhu udara didalam ruangan) < To kategori nyaman. Tetapi perbedaannya sangat tipis yaitu Ti lebih dingin 1,18 C°. Kelembaban Relatif ( Rh) didalam dan diluar ruangan masih dalam batas normal, sesuai dengan persyaratan signifikan nyaman. Kecepatan angin (V) didalam maupun diluar ruangan relative normal dan dikategorikan nyaman.

Kata kunci: arsitektur, kolonial modern, kenyamanan thermal.

Abstract : Residential building located on the street Dr. Wahidin No. 38 Semarang is the architectural artifacts that remain. The building was founded in 1938 by architect Liem Bwan Tjie modern colonial-style architecture. In architectural design, the climate is a major consideration, the climate in a region and a desire to meet the demands of convenience must produce a physical design solution design. "Cimatic design" solving which appeared in response to the study of climate responsive. Climate factors significantly affect the thermal comfort aspect. This research is limited to the thermal comfort performance of quantitative evidence on these residential buildings. From the results of this study concluded: To value (outdoor air temperature) is greater than the 5.97 C ° ET (effective temperature) so that the category was not comfortable, while the value of Ti (air temperature inside the room)

MEMILIH LOKASI UNTUK BANGUNAN PADA LERENG PERBUKITAN AMAN LONGSOR (STUDI KASUS DI SEKARAN SEMARANG)


Oleh : L a s h a r i
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Bangunan adalah salah satu tempat untuk beraktifitas yang menjadi kebutuhan hidup manusia. Jika keinginan dalam mewujudkan suatu banguan tertuju pada perbukitan, seperti topografi perbukitan Sekaran Gunungpati Semarang, sebaiknya dipersiapkan kecermatan terhadap bahaya longsor. Akan lebih mudah bila di wilayah perbukitan diketahui kreteria keamanan. Kreteria keamanan longsor dapat bermanfaat untuk membantu pihak yang berkompeten atau masyarakat dalam memilih/menggunakan lokasi perbukitan/lereng dengan diketahui tingkat keamanan longsor. Metode pelaksanaan dilakukan dengan mengambil sampel tanah sedalam 4 m di beberapa titik perbukitan Sekaran. Selanjutnya dilakukan pengujian parameter ketahanan longsor tanah. Untuk mengetahui struktur lapisan tanah bagian bawah digunakan data penyelidikan geolistrik. Analisis digunakan model sliding area dengan anggapan daerah kritis pada lapisan perubahan tanah keras sedalam berkisar 3 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbukitan Sekaran pada kemiringan 21° adalah kemiringan lereng yang mulai tidak aman dari kelongsoran. Kemiringan sebesar ini tidak dianjurkan untuk didirikan bangunan, sebaiknya dimanfaatkan untuk hutan tanaman keras. Kemiringan lereng yang aman untuk didirikan bangunan adalah lereng dibawah kemiringan 9°. Sedangkan Kemiringan lereng dengan kisaran 9° sampai 21°, dapat didirikan bangunan dengan persyaratan mengusahakan kandungan air tanah yang tidak cepat berubah menjadi jenuh, dengan beberapa cara : mempertahankan penghijauan, kelancaran saluran lingkungan, dan beberapa perkuatan tanah yang diperlukan.

Kata kunci: lereng, longsor, Sekaran.

Abstract: Building is a place for people to do activities which becomes one of their needs. When desire arises to build at hills, e.g. Sekaran-Gunungpati-Semarang topography, it will be better to be aware of landslide. It is easier if safety criteria is known at hills area. Landslide safety criteria is useful to help the authorized people or the society to choose/use a location at hills/slope with known landslide safety level.Research was done by taking a soil sample 4 m below surface at several location in Sekaran hills. Next, land slide resistance parameter is tested. To observe the structure of lower soil layer a geo-electrical examination data is used. A sliding area model is used for analysis with assumption critical area at hard soil transition layer is around 3 m below surface.Research shows that Sekaran hills at 21o inclination angle is its critical slope for landslide. At this angle building construction is not preferable, it will be better for solid vegetation. Safe slope angle for building is below 9o in here. Meanwhile, slope angle between 9o to 21o is still considerable for building by keeping soil water content from saturation through greens, good water channel, and some soil strengthening required.

Keywords: slope, landslide, Sekaran.

MODEL KUAT TEKAN PROPORSI ABU TERBANG DAN SEMEN UNTUK BAHAN DASAR BATU CETAK


Oleh : Moch. Husni Dermawan
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Abu terbang (fly ash) belum dimanfaatkan secara maksimal dan dapat mencemari lingkungan bila tidak ditangani dengan baik. Karena memiliki sifat pozolamik, maka abu terbang (fly ash) dapat dimanfaatkan sebagai bahan mengisi sekaligus bahan pengikat untuk bahan bangunan seperti pembuatan batu celak. Sebagai obyek dalam penelitian ini adalah batu cetak dari abu terbang dan semen. Sampel benda uji batu cetak dengan ukuran 7 cm x 7 cm x 7 cm dengan komposisi 10% - 90% abu terbang, cara pengambilan data dengan uji tekan di laboratorium masing-masing komposisi 5 buah benda uji. Analisis data dengan rata-rata benda uji masing-masing konsentrasi. Hasil penelitian menyatakan hasil uji tekan konsentrasi 10% AT + 90% PC = 409,05 kg/cm2; 20% AT + 80% PC = 304,94 kg/cm2; 30% AT + 70% PC = 243,99 kg/cm2; 40% AT + 60% PC = 104,62 kg/cm2; 50 AT + 50% PC = 84,23 kg/cm2; 60% AT + 40% PC = 73,5 kg/cm2, 70% At + 30% PC = 34,68 kg/cm2; 80% At + 20% PC = 24,46 kg/cm2; 90% At + 10% PC = 18,48 kg/cm2. Kesimpulan hasil uji kuat tekan diatas rata-rata unluk lantai ( > 200 kg/cm2) dam komposisi 40% - 80% AT mempunyai kuat tekan rata-rata untuk dinding ( > 25 kg/cm2).

Kata kunci : Kuat tekan, abu tebang, batu cetak.

Abstract : Fly ash hasn't been used maximally and it can polute environment if it is not well treated. Because of it's pozolamic characteristic, fly ash can be used as a filler and a banding agent for bricks. Object of his research is bricks from fly ash and cement. Bricks sample has dimension 7 cm x 7cm x 7 cm with 10% - 90% fly ash composition, sampling methods with compression test in each laboratory composition of 5 samples material. Average of sampling in each concentrate used for data analysis. Research result shows compression test for concentrate 10% AT + 90% PC = 409,05 kg/cm2; 20% AT + 80% PC = 304,94 kg/cm2; 30% AT + 70% PC = 243,99 kg/cm2; 40% AT + 60% PC = 104,62 kg/cm2; 50 AT + 50% PC = 84,23 kg/cm2; 60% AT + 40% PC = 73,5 kg/cm2, 70% At + 30% PC = 34,68 kg/cm2; 80% At + 20% PC = 24,46 kg/cm2; 90% At + 10% PC = 18,48 kg/cm2. Conclusion for the result of compression strength test above average for floor (> 200 kg/cm2), and for as compression 40% - 80% has compression value above average for wall (> 25 kg/cm2).

Keywords: compression strength, fly ash, bricks.

TINGKAT KEBISINGAN PADA PERUMAHAN DI PERKOTAAN


Oleh : Moch Fathoni Setiawan
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Permasalahan yang saat ini menjadi isu di lingkungan perumahan adalah peningkatan pencemaran udara dan kebisingan. Sumber kebisingan yang dominan di lingkungan perumahan adalah berasal dari lalu-lintas kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia semakin tahun semakin meningkat, akibatnya lingkungan perumahan di Perkotaan menjadi bising. Kebisingan sendiri terkait dengan kepadatan lalulintas. Kondisi ini ditambah dengan penyediaan sarana jalan yang tidak memadai menjadikan lingkungan perumahan menjadi jalan pintas dari dan ke jalan umum. Hal ini semakin menimbulkan kebisingan di lingkungan perumahan. Penelitian yang dilakukan di Kota Yogyakarta dan DKI Jakarta memperlihatkan bahwa tingkat kebisingan yang terjadi di lingkungan perumahan telah berada diatas ambang baku mutu yang disyaratkan. Kebisingan yang terjadi di lingkungan perumahan sudah saatnya memerlukan penanganan yang serius, mengingat pengaruh buruk dari kebisingan terhadap kesehatan manusia pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Berbagai penanganan kebisingan telah banyak dilakukan terutama terkait pada 3 (tiga) hal, yaitu pada sumber suara, media suara dan penerima. Penanganan secara arsitektural lebih tepat ditujukan pada penanganan media perambatan suara. Pengolahan ‘jalan’ bunyi yang dalam hal ini bertujuan untuk mengurangi kebisingan yang diterima oleh penerima dapat dilakukan dengan cara: Pertama, memperpanjang jalannya media perambatan dengan cara menjauhkan antara sumber suara dengan penerimanya. Kedua, memberi penghalang antara sumber dengan penerima, penghalang dapat berupa dinding penghalang, barier tanaman, maupun fasade bangunan itu sendiri. Penanganan secara non Arsitektural dapat dilakukan dengan cara membuat kendaraan bermotor yang lewat lingkungan perumahan menurunkan kecepatannya sampai kurang lebih 20 km/jam.

Kata kunci: kebisingan, perumahan, lalu-lintas

Abstract : The problems that currently an issue in the neighborhood are increasing air pollution and noise. The dominant source of noise in the neighborhood is derived from motor vehicle traffic. The number of motor vehicles in Indonesia has become the year has increased, resulting in urban neighborhoods become noisy. Own noise associated with traffic density. This condition coupled with the provision of inadequate roads make the neighborhood becomes a shortcut to and from public roads. This further raises the noise in the neighborhood. Research conducted in the city of Yogyakarta and Jakarta showed that the level of noise that occurs in the neighborhood has been above the threshold required quality standard. Noise that occurs in the neighborhood it was time to require the handling of serious, considering the adverse effect of noise on human health will ultimately affect the quality of life. Various handling noise have been carried out primarily related to the 3 (three) things, namely the source of the noise, media noise and receiver. Handling is more precise architectural aimed at handling the sound propagation medium. Processing of 'street' sound which in this case aims to reduce noise received by the receiver can be done in a way: First, extending the course of propagation media in a way to distance between the sound source with the recipient. Second, provide a barrier between the source and receiver, the barrier can be a barrier wall, barrier crops, as well as facade building itself. Handling non-architectural can be done by making a passing motor vehicles housing environment reduce speed to less than 20 km / hr.

Keywords: Noise, neighbourhood, traffic

KAJIAN TEKNIS PERENCANAAN KORIDOR JALAN PANDANARAN SEMARANG


Oleh : Diharto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229

Abstrak : Jalan Pandanaran merupakan salah satu koridor kawasan segitiga emas perdagangan dan jasa Kota Semarang, merupakan jalan yang cukup penting sebagai menghubungkan simpul Simpang Lima dan simpul Tugu Muda. Permasalahan yang terjadi di koridor Jalan Pandanaran diantaranya : tingginya intensitas lalu lintas mengganggu kemudahan dan kenyamanan pejalan kaki, kurangnya penghijauan dan penataan jalur hijau, Pedagang Kaki Lima terkonsentrasi di depan pusat oleh-oleh, lebar jalur pejalan kaki antara 2,1 - 3,8 m, dan belum adanya (gerbang) koridor Jalan Pandanaran dengan kawasan Simpang Lima dan Tugu Muda. Konsep desainnya menggunakan futuristik, green building architecture, dan sustainable. Pendekatan desain mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Bina Marga, review Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Simpang Lima Kota Semarang, dan pengukuran lapangan. Hasil desain adalah penataan lebar jalan 14 m (empat lajur dua arah), bahu jalan 2 m (sebagai jalur sepeda), penataan lebar pejalan kaki 3 m, penambahan penghijauan, penambahan lampu pedestrian, penambahan lampu penerangan jalan, penambahan penanda, penambahan sitting group, penataan box panel, dan gerbang kawasan.

Kata kunci : Perencanaan, Koridor, Jalan Pandanaran

Abstract : Pandanaran Road is one of corridor the golden triangle area of trade and services the city of Semarang, is a road that is quite important as a connecting node Simpang Lima and node Tugu Muda. The problems that occurred in the corridor Street Pandanaran including: the high intensity of traffic disrupt the ease and convenience of pedestrians, lack of greenery and arrangement of green belt, Cadger are concentrated at the center by-by, wide walkways between 2.1 - 3.8 m, and yet the (gate) Pandanaran Road corridor with the Simpang Lima area and Tugu Muda. The concept of using a futuristic design, green building architecture, and sustainable. Design approach based on the Regulation of the Director General of Highways, reviews building and environmental planning Regions Simpang Lima Semarang City, and field measurement. The result of the design is the arrangement of roads 14 m wide (four-lane two-way), 2 m road shoulder (as a bike path), the arrangement of pedestrian width 3 m, the addition of greenery, the addition of pedestrian lighting, street lighting additions, adding bookmarks, adding the sitting group , The arrangement of the panel box, and the gate area.

Keyword : Planning, Corridor, Jalan Pandanaran

ANALISA PERMINTAAN PARKIR DI STASIUN PONCOL DAN TAWANG SEMARANG


Oleh : Agung Sutarto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102 E-mail : sutarto_agung@yahoo.co.id

Abstrak : Kegiatan di stasiun kereta api akan menghasilkan perjalanan yang membutuhkan ruang parkir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik permintaan perbedaan antara stasiun Poncol dan Tawang. Ciri ini pengaruh harga tiket ke atraksi perjalanan, model tarikan perjalanan, kebutuhan transportasi mode dan kebutuhan ruang parkir. Kelas ekonomi dan transportasi barang disajikan di Poncol.Bisnis dan kelas eksekutif disajikan di Tawang stastion. Korelasi antara daya tarik perjalanan dan jumlah tiket dapat digambarkan dalam persamaan berikut: Ytrip atraksi = 120,51 + 1,0602 Xticket untuk stasiun Poncol, dan: Ytrip atraksi = 175,21 + 1,3212 Xticket untuk stasiun Tawang. Korelasi antara daya tarik dan moda transportasi dapat digambarkan dalam persamaan berikut: Ytarikan = 7,3063 + 3271 Xmobil pribadi + 2.464 Xbecak + 2.406 Xsepeda motor + 2.448 Xpick-up untuk stasiun Poncol, dan: Ytarikan = 4467 + 3567 Xmobil pribadi + 2.517 Xsepeda motor, untuk stasiun Tawang. Dapat disimpulkan bahwa ruang parkir permintaan penumpang masing-masing 1,48 m² di stasiun Poncol dan 7,3 m² di stasiun Tawang. Perjalanan atraksi per tiket di stasiun Poncol 1,0602 dan 1,3212 di stasiun Tawang.Transportasi modus yang dominan digunakan di stasiun Poncol adalah sepeda motor, sedangkan di stasiun Tawang adalah mobil pribadi dan sepeda motor. mobil pribadi sering digunakan karena fasilitas transportasi publik tidak dapat mendukung kebutuhan penumpang kereta. Ada variabel kendaraan pick-up di stasiun Poncol Poncol karena melayani penumpang dan barang. SRP yang digunakan dalam stasiun Poncol untuk penumpang mobil 65 SRP, sepeda motor 282 SRP, pick-up 52 SRP, dan roda tiga (becak) 64 SRP. SRP yang digunakan dalam stasiun Tawang untuk mobil penumpang 235 SRP, sepeda motor 350 SRP dan roda tiga (becak) 13 SRP

Kata kunci: bangkitan perjalanan, kebutuhan parkir, stasiun poncol, stasiun tawang

Abstract : Activities in a railway station will generate trips which need parking space. This research is aimed to analyze the difference demand characteristics between Poncol and Tawang stations. These characteristics are the effect of ticket price to trip attraction, trip attraction model, transportation mode demand and parking space demand. The economic class and transportation of goods are served in Poncol. Bussiness and executive class is served in Tawang stastion. The correlation between trip attraction and the number of ticket can be described in the following equation : Ytrip attraction = 120,51 + 1,0602 Xticket for Poncol station, and : Ytrip attraction = 175,21 + 1,3212 Xticket for Tawang station. Correlation between trip attraction and transportation mode can be described in the following equation : Ytripattr = 7,3063 + 3,271 Xprivate car + 2,464 Xbecak + 2,406 Xmotor cycle + 2,448 Xpick up for Poncol, and : Ytrip attraction = 4,467 + 3,567 Xprivate car + 2,517 Xmotorcycle, for Tawang station. It can be concluded that the parking space demand for each passenger is 1,48 m2 in Poncol station and 7,3 m2 in Tawang station. Trips attraction per ticket is 1,0602 in Poncol station and 1,3212 in Tawang station. Transportation mode which is dominantly used in Poncol station is motorcycle, while in Tawang station is private car and motorcycle. Private car is often used because the public transport facility could not support the train passenger’s needs. There are variable pick-up vehicles in Poncol because Poncol station served passengers and goods. SRP which are used in Poncol station for passenger car 65 SRP, motorcycle 282 SRP, pick-up 52 SRP, and tricycle (becak) 64 SRP. SRP which are used in Tawang station for passenger car 235 SRP, motor cycle 350 SRP and tricycle (becak) 13 SRP.

Keywords: trips attraction, parking demand, poncol station, tawang station .

KAPASITAS GESER BALOK BETON BERTULANG DENGAN POLYPROPYLENE FIBER SEBESAR 4% DARI VOLUME BETON


Oleh : Henry Apriyatno
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102 email: henryapriyatno@gmail.com

Abstrak : Polypropylene fiber merupakan salah satu serat plastik yang memiliki kuat tarik tinggi, mudah didapat, harganya relatif murah, tahan terhadap serangan bahan kimia, dan memiliki permukaan yang kering sehingga tidak terjadi penggumpalan serat dalam proses pengadukan beton. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan polypropylene fiber sebesar 4% dari volum beton terhadap kuat geser balok beton bertulang. Penambahan polypropylene fiber dari kadar 0% sampai 4% dari volume beton menyebabkan penurunan nilai modulus elastisitas dari 13.966,33 MPa menjadi 11.709 MPa. Hasil pengujian geser balok beton bertulang penambahan kadar serat dari 0% sampai 4% diperoleh kenaikan kapasitas geser nominal balok dari 4,08 ton menjadi 4,56 ton. Balok beton fiber akan mengalami kenaikan kapasitas gesernya sebesar 11,76 % dari kapasitas geser balok normal.

Kata kunci: polypropylene fiber, modulus elastis, kapasitas geser

Abstract : Polypropylene fiber is one of the plastic fiber that has high tensile strength, easily available, relatively cheap, resistant to chemical attack, and has a dry surface so that no clumping of fiber in the concrete mixing process.The study aims to determine the effect of polypropylene fiber by 4% of the volume of concrete to shear strength of reinforced concrete beams. The addition of polypropylene fiber in the levels of 0% to 4% of the volume of concrete causes a decrease in modulus of elasticity of 13966.33 MPa to 11,709 MPa. Shear test results reinforced concrete beam fiber content increase from 0% to 4% increase in capacity obtained by the nominal shear beam from 4.08 tons to 4.56 tons. Fiber concrete beams will increase the shear capacity of 11.76% of the normal beam shear capacity.

Keywords: polypropylene fiber, modulus elasticity, shear capacity

HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN, VOLUME DAN KEPADATAN LALU LINTAS RUAS JALAN SILIWANGI SEMARANG


Oleh : Eko Nugroho Julianto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102 E-mail : en_julianto@staff.unnes.ac.id

Abstrak : Volume perjalanan lalu lintas pada ruas jalan Siliwangi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan perkembangan daerah ini. Untuk mengatasi masalah kemacetan lalulintas pada ruas jalan ini terlebih dahulu diperlukan pengetahuan mengenai karakteristik lalu lintas dan model hubungan antar karakteristik tersebut. Kajian ini bertujuan menganalisis model hubungan antar karakteristik volume (V), kecepatan (S) dan kepadatan (D) lalu lintas, sesuai dengan kondisi yang ada. Survai data meliputi volume dan kecepatan lalu lintas dengan metode manual count, sedang analisis model meliputi model Greenshield, Greenberg, dan Underwood. Hasil analisis menunjukkan bahwa model hubungan V-S-D yang sesuai untuk ruas jalan Siliwangi adalah mengikuti model Greenberg dengan nilai r = 0.773, dengan model Us = 68.20 x exp(-D/-15.05).

Kata kunci: model hubungan, greenshield, greenberg, underwood

Abstract : The volume of traffic traveling on roads Siliwangi have increased from year to year. This is due to the development of this area. To overcome the problem of traffic congestion on these roads is required prior knowledge about traffic characteristics and model of the relationship between these characteristics. This study aims to analyze the model of the relationship between the characteristic volume (V), speed (S) and density (D) traffic, in accordance with existing conditions. Survey data includes traffic volumes and speeds with the manual count method, being analytical models include models Greenshield, Greenberg, and Underwood. The results showed that the relationship model that is suitable for VSD Siliwangi road is to follow the model of Underwood with r = 0859, with the model of Us = 68.20 x exp(-D/-15.05).

Keywords: relationship model, Greenshield, Greenberg, Underwood

EVALUASI TITIK KONTROL TINGGI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DENGAN METODE PENGUKURAN KERANGKA DASAR VERTIKAL BENCH MARK (BM)


Oleh : Ispen Safrel
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102

Abstrak : Tahun 2009 Universitas Negeri Semarang (UNNES) telah melakukan kegiatan pengukuran Kerangka Dasar Horizontal dan Kerangka Dasar Vertikal dengan menggunakan Global Positioning Systems (GPS) tipe Geodetik dan pemasangan 2 bench mark (BM) Namun pada perkembangannya ketinggian (Z) di suatu wilayah dipermukaan bumi selalu berubah-ubah dan menurut beberapa wacana yang berkembang, khusus untuk wilayah kota semarang sendiri dikabarkan mengalami penurunan ± 5 cm dari rata-rata muka air laut (MSL) setiap tahunnya. Bagaimana dengan ketinggian Kampus UNNES Sekaran ?, Dalam penelitian ini perlu diteliti seberapa besar perubahan ketinggian dari suatu posisi (kampus Unnes) pada tahun 2010. Pengukuran kerangka kontrol vertikal BM Unnes diikatkan pada Titik Tinggi Geodesi (TTG) nomor 449 dengan ketinggian 221.004 MSL di daerah ”Ada Swalayan” Banyumanik. Evaluasi hasil pengukuran dengan GPS Titik Tinggi dari tinggi ellipsoid eksisting BM 02 UNNES yaitu ± 223.147 MSL dan setelah melalui proses pengolahan data dari pengukuran titik tinggi terestris untuk BM 02 Unnes adalah ± 219.237 MSL, sehingga kita dapati perbandingan antara titik ellipsoid BM 02 Unnes dengan hasil pengukuran

Kata kunci : titik kontrol, kerangka dasar vertikal, bench mark

Abstract : In 2009, State University of Semarang (UNNES) had engaged in the measurement of the Framework for the Horizontal and Vertical Basic Framework using Global Positioning Systems (GPS) geodetic type and installation of two bench mark (BM), however the height of its development (Z) in a region on the surface of the earth always changing and growing discourse according to some, especially for the city of Semarang itself reportedly decreased ± 5 cm from the average sea level (MSL) each year. What about the height of Campus UNNES have now?, In this study need to be investigated how much elevation change from a position (Unnes campus) in 2010. Measurement of vertical control framework BM Unnes tied to the High Point Geodesy (TTG) with a height of 221 004 449 number MSL in the area "Ada Supermarket" Banyumanik. Evaluation results of GPS measurements with the High Point of the ellipsoid existing high molecular weight 223 147 ± 02 UNNES the MSL and after going through the process of measurement data processing terrestrial high point for BM 02 219 237 ± Unnes is MSL, so that we find the comparison between BM 02 Unnes ellipsoid point with results measurement

Keywords: control points, the basic framework of vertical, bench mark

PERUBAHAN SPASIAL DAN SOSIAL-BUDAYA SEBAGAI DAMPAK MEGAURBAN DI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG


Oleh : Teguh Prihanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102. Email: rihants@gmail.com

Abstrak : Penelitian tentang perubahan spasial dan sosial-budaya sebagai dampak megaurban di daerah pinggiran Kota Semarang memiliki tujuan: (1) menemukan dan mengkaji faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya proses megaurban; (2) menemukan mekanisme kerja atau proses megaurban berlangsung; dan (3) mengkaji dampak yang timbul dari proses tersebut (terutama spasial, sosial-budaya, ekonomi dan kependudukan. Lokasi penelitian ini adalah daerah pinggiran Kota Semarang. Kota ini dipilih karena memiliki peran yang strategis. Penelitian ini akan didekati dengan paradigma terpadu secara naturalistik atau fenomenologi. Pendekatan ini bukan berarti mengingkari paradigma positivistik, namun justru upaya untuk ”saling melengkapi”. Dalam paham positivisme, pendekatan utamanya adalah metode kuantitatif dengan kata-kata kunci seperti: hipotesis, uji sampel, populasi, deduksi, dalil, generalisasi, dan sebagainya, sedangkan dalam pendekatan naturalistik lebih condong ke arah metode analisis kualitatif Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Perkembangan Kota Semarang sebagai kota besar di bidang industri, perdagangan, jasa dan pendidikan memiliki pengaruh terhadap daerah-daerah pinggiran kota. Pengaruh tersebut adalah: (1) Aspek kependudukan: terjadi pergeseran mata pencarian penduduk daerah pinggiran kota dari pertanian ke non pertanian; (2) aspek sosial budaya: terjadi akulturasi budaya antara para pendatang dan penduduk asli daerah pinggiran kota; (3) aspek fisik spasial: terjadi alih fungsi lahan daerah pinggiran kota, dari lahan pertanian menjadi lahan permukiman, perdagangan dan industri.

Kata Kunci: megaurban, kota semarang, daerah pinggiran kota, sosial budaya

Abstract : The research of spatial and socio-cultural changes as megaurban impacts in urban fringe area of Semarang has several aims: (1) to discover and examine what factors cause megaurban process, (2) to find a mechanism or process megaurban place, and (3) to study the effects of the process (especially spatial, socio-cultural, economics and demography. The location of this study is the outskirts of Semarang. The city was chosen because it has a strategic role. This research will be approached in an integrated paradigm is naturalistic or phenomenology. This approach does not mean denying the positivistic paradigm, but instead attempt to "complement each other." In the understanding of positivism, its main approach is a quantitative method with key words such as: hypothesis, test the sample, population, deduction, theorem, generalization, and so on, whereas in a more naturalistic approach leaning towards qualitative analysis method. The research concluded that the development of Semarang as a major city in the fields of industry, commerce, services and education have an impact on suburban areas. Influence are: (1) Aspects of demography: there is livelihoods suburbs change from agriculture to non-agriculture, (2) socio-cultural aspects: acculturation occurred between the settlers and natives suburbs, (3) physical aspects of spatial : land conversion occurs suburbs, from agricultural land into residential land, trade and industry.

Keywords: megaurban, Semarang city, the suburbs, social culture

PERILAKU LENTUR BALOK-L BETON BERTULANG BERLUBANG DITINJAU SECARA EKSPERIMEN DAN ANALISIS NUMERIK MEMAKAI SOFTWARE GID-ATENA


Oleh : Endah Kanti Pangestuti, Mahmud Kori Effendi
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp. (024) 8508102 E-mail : endahkp@gmail.com

Abstrak : Pengamatan perilaku balok beton bertulang berlubang di badan dengan variasi bentuk persegi panjang dilakukan secara eksperimen. Benda uji yang digunakan adalah balok L beton bertulang yang dirancang dengan beban 2600 N dan menghasilkan tulangan tunggal 2D13 dengan tumpuan sendi dan rol. Balok mempunyai bentang 2 m, lebar web 150 mm, tinggi 250 mm, tebal slab 100 mm, lebar efektif 317 mm. Untuk mengetahui perilaku lubang di badan maka dibuat benda uji balok tanpa lubang (BLK01), balok dengan lubang 100 mm x 100 mm (BLKLB01), balok dengan lubang 200 mm x 100 mm (BLKLB02). Jarak lubang 150 mm dari tumpuan kanan. Masing2 benda uji 1 buah. Untuk mengetahui kapasitas beban maksimum yang ditahan balok, balok dites lentur murni dengan jarak beban titik 650 mm dari tumpuan. Hasil analisis GID-ATENA menunjukkan bahwa beban retak balok pertama lebih kecil 42-62 %, beban ultimit balok lebih kecil 33-47%, lendutan tengah bentang pada beban retak pertama lebih kecil 55-86%, dan lendutan tengah bentang pada beban ultimit lebih kecil 45-70% terhadap hasil eksperimen. Pola retak pertama balok BLK01 terjadi di tengah bentang sedangkan BLKLB01 dan BLKLB02 terjadi di bawah lubang. Hasil analisis GID-ATENA mendapatkan hasil yang berbeda pola retak pertamanya.

Kata Kunci: Balok lubang, Balok L, GID-ATENA

Abstract:.Investigation on behavior of openings-beam reinforced concrete with the variation type of sided is conducted experimentally and numerical analytically using GID-ATENA software. Used specimens were reinforced concrete L-shaped beam designed with ultimate load 2600 N and having tension reinforcement 2D13 with roll and hinge support. Beam had 2 m span, 150 mm web width, 250 mm high, effective 317 mm width and slab 100 mm thick,. To differentiate behavior of openings, a specimen without openings ( BLK01), a specimen with openings 100 mm x 100 mm ( BLKLB01), a specimen with openings 200 mm x 100 mm ( BLKLB02) were made. An opening was 150 mm from right support. Pure moment was done with load 650 mm from support. To compare experiment, 3D model GID-ATENA was analyzed. The material model of concrete was CCCOMBINEDMATERIAL and CC1DELASTLSOTROPIC for reinforcement. This analysis used geometric and material non linear analyses.Result of GID-ATENA analysis indicate that the first crack load were less than 42-62 %, ultimate load were less than 33-47%, mid-span displacement at first crack load were less than 55-86%, and mid-span displacement at ultimate load were less than 45-70% compared to the experiment result. First crack pattern of BLK01 occured in the mid-span while BLKLB01 and BLKLB02 occurred below the hole. Result of analysis GID-ATENA get the different result of its first crack pattern.

Keywords: openings-beam, L-shaped beam, GID-ATENA

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPERAN TERHADAP PENINGKATAN SIKAP KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PARA PELAKU ...


FAKTOR-FAKTOR YANG BERPERAN TERHADAP PENINGKATAN SIKAP KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PARA PELAKU JASA KONSTRUKSI DI SEMARANG

Oleh : Bambang Endroyo

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gedung E4, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp/fax. (024) 8508102


Abstrak : Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terutama di sektor konstruksi masih memprihatinkan. K3 di Indonesia masih menduduki urutan terbawah di Asean. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menekan kecelakaan kerja menjadi se minimal mungkin. Kecelakaan yang sering terjadi banyak diakibatkan oleh faktor manusia (human factor) yaitu sebesar 85%. Pelaksanaan K3 Konstruksi di lapangan sangat tergantung dari sikap dan perilaku para pelaku jasa konstruksi. Sikap K3 sangat tergantung dari banyak faktor, antara lain yang akan diungkap melalui penelitian ini adalah: pendidikan, pengalaman, sertifikasi, dan komitmen perusahaan. Dari berbagai faktor tersebut, faktor pendidikan mempunyai korelasi 0,30 (signifikansi: 0,048) terhadap sikap K3, sedang faktor lainnya korelasinya tidak signifikan. Semua faktor tersebut hanya memberi memiliki sumbangan efektif sebesar 0,213 (21,3%) terhadap faktor sikap K3. Hal itu menunjukkan bahwa masih ada 78,7 % yang belum dapat dijelaskan dan merupakan masalah yang masih harus diupayakan jawabnya.

Kata kunci: sikap K3, konstruksi, pelaku jasa konstruksi


Abstract : Implementation of Occupational Health and Safety (K3), especially in the construction sector was still bad. K3 in Indonesia is have the lowest rank in Asean. Various efforts have been made by government to reduce occupational accidents to a minimum as possible. Accidents often occur were mostly caused by human factors, about 85%. Construction Safety Implementation in the field depends on the attitude and the behavioral of the participant of construction services. The attitude of K3 depends on many factors, among others - which will be studied through this research - are: education, experience, certification, and corporate commitment. From these various factors, educational factors correlated 0.30 (significance: 0.048) contribute to attitude of K3 , and was another factor correlations were not significant. All these factors have only to give efectif contribution about to 0.213 (21.3%) of the attitude factor K3. It means that about of 78.7% which can not be explained and is a problem to be studied again.

Key words: attitude of K3, construction, participant of construction services

ANALISIS PENGARUH STRUKTUR KOTA - SISTEM TRANSPORTASI - KONSUMSI BBM KOTA-KOTA DI JAWA


Oleh : Mudjiastuti Handajani
Jurusan Teknik Sipil Universitas Semarang (USM) Jl. Sukarno Hatta, Tlogosari, Semarang, telp: 081390959909, email: hmudjiastuti@yahoo.co.id

Abstrak : Sektor transportasi merupakan konsumen yang paling banyak menggunakan BBM, sehingga konsumsi BBM untuk kegiatan transportasi selayaknya mendapat perhatian. Peningkatan kegiatan sistem transportasi khususnya yang dipicu oleh peningkatan pemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi memberikan dampak negatif terhadap kota. Transportasi merupakan penyerap bahan bakar terbesar yang berasal dari sumber fosil yang semakin langka dan tidak dapat diperbaharui. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah : a) data panjang jalan, panjang jalan, dihitung hanya jalan yang aspal atau beton bertulang saja b) pola jaringan jalan, kondisi di lapangan pola jaringan jalan tidak selalu membentuk persis seperti pola jaringan jalan dalam teori (grid, radial/konsentrik, linear) tetapi ada beberapa modifikasi c) kondisi jalan yang terdiri dari kondisi baik, sedang, rusak dan sangat rusak, d) kendaraan umum penumpang, yang terdiri dari MPU (mobil penumpang umum) dan bus umum d) angkutan barang (truk) e) kendaraan pribadi yang terdiri dari mobil penumpang, bus, dan sepeda motor f) panjang trayek angkutan umum. Pengaruh paling tinggi dari struktur kota terhadap konsumsi BBM adalah Jumlah penduduk yaitu 0,986. Sistem transportasi kota juga mempunyai nilai pengaruh yang tinggi terhadap konsumsi BBM yaitu 0,907. Struktur kota mempengaruhi konsumsi BBM sangat kuat dengan nilai loading 0,976. Hubungan struktur kota terhadap konsumsi BBM lebih kuat dibanding dengan sistem transportasi terhadap konsumsi BBM.

Kata kunci: pengaruh, struktur kota, sistem transportasi, konsumsi BBM.

Abstract : Transportation sector is sector with the most customer fuel, so fuel consumption for transportation activity should appropriately get more attention. The increasing activity of transportation syatem especially triggered by the increase of ownership and private vehicle usage give negative impacts on towns. Ttransportation is sector taking the most fuel got from fossil source which is getting rare and unrenewable. Data collected in this research is: a) data of length of the road, the length of the road, only calculated for asphalted road or reinforced concrete, b) road network pattern, in the field condition, road network pattern does not always have the same form as road network pattern in the theory, of (grid, radial/concentric, linear), but there are some modifications, c) road condition, consisting of good, relatively good, poor, and very poor condition category, d) passenger’s public transportation, consisting of public passenger transportation and public bus, e)goos transportation/truck, f) private vehicle consisting of passenger car, bus and motorcycle, g) the length of designated route of public transportation. The highest influence of the town structure on fuel consumption is the number of people, that is 0,986.Town transportation system also has the high influence values on fuel consumption, that is 0,907. Town structure strongly influences fuel consumption is stronger compared to the transportation system on fuel consumption.

Key word: influence, town structure, transportation system, fuel consumption.

ANALISIS PENYEDIAAN FASILITAS PEDESTRIAN DI KAWASAN PASAR BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG


Oleh : Totok Apriyanto
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Undaris Ungaran

Abstrak : Kawasan wisata Bandungan yang identik pasar Bandungan, menawarkan pesona alam berupa hawa dingin dan pemandangan alam penuh keelokan dan wisata belanja di Pasar Bandungan yang menjual berbagai buah-buahan dan makanan serta jajanan khas daerah pegunungan. Namun demikian masih lekat dengan kesan sumpek dan semrawut. Hal ini disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah pedagang dan pengunjung serta masih bercampurnya arus pejalan kaki dengan arus pergerakan lalu lintas di sepanjang kawasan wisata belanja pasar Bandungan. Demi menunjang eksistensi wisata belanja di Bandungan, keberadaan PKL di sepanjang trotoar pada ruas jalan pasar Bandungan perlu tetap dipertahankan dan perlu dibenahi penampilan fisiknya, karena hal ini menjadi daya tarik dari Kawasan Wisata Bandungan sebagai pusat perdagangan dan sebagai obyek wisata belanja. Untuk mengatasi kesemrawutan di kawasan wisata belanja pasar Bandungan, penyediaan fasilitas pejalan kaki (pedestrian) yang memisahkan arus pejalan kaki dengan arus pergerakan lalu lintas menjadi sebuah keharusan. Mengingat keterbatasan lahan, penyediaan fasilitas pedestrian dilakukan dengan mengambil sebagaian ruas jalan sebesar 1,5 meter dan diberi pembatas dengan arus pergerakan lalu lintas, sehingga konsentrasi pejalan kaki akan terpusat hanya pada fasilitas tersebut. Disamping itu, fasilitas penyeberangan juga perlu disediakan sehingga para penyeberang hanya akan menyeberang pada satu tempat penyeberangan tersebut. Keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut akan meningkatkan lebar efektif jalan sehingga dapat melancarkan arus lalu lintas yang melewati kawasan wisata belanja pasar Bandungan.

Kata kunci: wisata belanja, pesona, pedestrian, lebar efektif jalan.

Abstract : Tourist area Bandungan identical Bandungan market, offers the natural charm of the cold and full of beauty of natural scenery and tourist shopping in Bandungan Market that sells a variety of fresh fruits and meals and snacks typical mountain areas. However, still attached to the impression of cramped and chaotic. This is caused by the increasing number of traders and visitors and is still mixing with the flow of pedestrian flow movement of traffic along the shopping area Bandungan market. By supporting the existence of tourist shopping in Bandungan, the presence of street vendors along the sidewalks on the road need to be maintained Bandungan market and need to be addressed physical appearance, because this is the main attraction of the Area Tourism Bandungan as a trade center as a tourist attraction and shopping. To overcome the chaos in the shopping area Bandungan market, the provision of pedestrian facilities (pedestrian) that separates the pedestrian flow to the flow of traffic movement became a necessity. Given thethe limitations of land ,provision of pedestrian facilities is done by taking the used road is 1.5 meters long and lined,with a flow of traffic movement ,so that the concentration of pedestrians will focus only on the facility . In addition, crossing facilities also need to be provided so that the defector will only be crossed at one place these crossings. The existence of these facilities will enhance the effective road width so as to smooth traffic flow past the shopping area Bandungan market.

Keywords: tourism shopping, pedestrian, effective road width